Diarsipkan di bawah: Uncategorized
selamat siang, jurnalku
siang ini lapar belumlah pula berkenan menghampiri lambungku. mungkin karena sarapan yang terlambat. mungkin maag-ku kumat. mungkin atasanku mulai bersilat. mungkin, dan mungkin.
ya sudahlah, biarkan kita mulai berceloteh di siang yang mendung ini.
jurnalku,
mungkin kau sudah tahu, 2 hari lagi adalah hari kasih sayang, atau biasa mereka sebut valentine’s day. di hari yang merah jambu ini, pasangan pria-wanita, yang tua-muda, merayakan dengan penuh gegap gempita. sekotak coklat, seikat bunga dan berbaris lantunan puisi cinta, yang dicuplik dari buku Kahlil Gibran, melengkapi perayaan ini. sungguh indah. tapi ironis.
maaf, jurnalku
bukannya aku tak suka merayakannya. aku juga memiliki kasih sayang, cinta dan perasaan indah lainnya. aku juga memiliki pasangan (bagi anda yang berpikir saya GAY … THINK AGAIN!!), yang sangat aku sayangi. tapi sejak semalam, pikiran ini mulai bergulir tentang nilai kasih sayang itu sebenarnya. kenapa harus ada perayaan kasih sayang, tapi tidak untuk duka. ya, duka. buatku kasih sayang yang begitu indah akan kehilangan artinya tanpa duka.
sebelum kau mulai pusing, jurnalku, ijinkan aku menjelaskan
kasih sayang adalah perasaan yang begitu indah, bila kuibaratkan, serupa bunga mawar. tapi, bukankah indahnya bunga mawar itu terlihat lebih berkesan setelah kita melihat seonggok kotoran kuda dengan bentuk yang abstrak. kotoran kuda itu adalah duka. kasih sayang akan terasa lebih indah saat kita telah mengalami duka.
maaf, jurnalku
akhirnya lapar telah kenan singgah di lambungku yang pasrah menanti. mungkin akan kulanjutkan sore nanti. atau tidak akan kulanjutkan, dan biarkan akalmu yang mencerna penjelasan tadi. mungkin, entahlah.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
selamat pagi, jurnalku
aku ingin bercerita tentang sesuatu yang lucu tadi malam. kebiasaanku untuk tidur malam membuatku sangat bersahabat dengan tabung gambar, yang biasa disebut televisi, itu. sesungguhnya persahabatan kami tidak dilandasi cinta, melainkan kebutuhan mutualistis. aku butuh televisi untuk menemani, sementara televisi butuh aku untuk tetap menunjukkan eksistensinya di dunia.
baiklah, jurnalku
sebelum aku membuatmu bosan, ada baiknya cerita ini kumulai. di salah satu stasiun televisi swasta nasional, yang mengaku selalu lebih indonesia, ditampilkan sebuah acara kuis interaktif yang menggunakan jasa layanan sms premium empat angka (semacam : KETIK REG (spasi) KUIS, KIRIM KE 6699). Pemandu acara atau host dalam acara itu adalah seorang wanita cantik dan seksi dengan suara menggoda. gaun yang dikenakan oleh wanita terlihat sangat seksi, apalagi belahan bagian dadanya sedikit lebar sehingga, maaf, sebagian payudaranya terlihat dengan jelas. yang lucu adalah si wanita terlihat risih dan berusaha untuk menutupi bagian “pribadi”nya. kartu naskah, rambut dan beberapa properti studio telah digunakan, tapi entah karena usahanya yang belum maksimal atau dia sengaja melakukannya, payudara itu beberapa kali tertangkap oleh kamera, dan mata-mata para lelaki pencumbu malam sepertiku.
jangan salah, jurnalku
realitas seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, bahkan sudah menjadi hal yang umum dan wajar terjadi. ketika tubuh wanita dieksploitasi secara vulgar demi sebuah kepentingan, yang ujung-ujungnya berbau profit alias duit. sementara para aktivis muslimah sibuk memperdebatkan masalah aurat dan kemuliaan seorang wanita, para selebritis dan public figure sibuk mengumbarnya. dilematis, dan sedikit tragis, bukan?? aahh, siapakah aku hingga berani menilai hal seperti itu.
sudahlah, jurnalku
hari ini sudah terlalu mendung. aku tak ingin membuatnya semakin sendu dengan racauan yang semakin tidak masuk akal ini. baahhh!!
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
maaf, jurnalku
telah lamaku sisihkan dirimu. pastilah lembaranmu mulai lelah menanti belai penaku. ya, aku tahu kau pasti kecewa, apalagi setelah tahu bahwa aku hanya sempat mengguratkan rangkaian kalimat bodoh ini ke lembar-lembarmu yang menanti kisah menakjubkan, yang terkenang sepanjang masa. untuk itu maafku tentu tak akan cukup menebus segala penantianmu itu.
jurnalku,
tahukah kau, bahwa aku hari ini sedang merasa usang. ya, usang. sama usangnya dengan kain bekas pembersih di dapur. tapi aku yakin kau sudah bosan mendengar keluhku ini. ada segudang kesah yang tak henti kumuntahkan di atas lembarmu, jurnalku. ada basahnya airmata di sana.
dan aku,
terlalu bodoh untuk mencari penyelesaian bagi semua masalahku. kubiarkan semuanya merembang di batas hatiku. mengambang serupa kabut di mendungnya fajar. merenggut sisa geliat semangatku, yang semula begitu gelora. hendak kemana hati ini kelana? padahal tanjung telah terlihat di cakrawala. kenapa harus mencari bila mutiara telah bersandar di ujung mata? dan aku hanya mampu mengumbar kata tanpa makna seperti ini. bah!!
sudahlah, jurnalku
biarkan bara cemburu merayapi lembar hingga menguap airmata itu. aku hanya tahu memuaskan egoku, dan bukan untuk mengalah. bagiku : mengalah artinya kalah. aku bosan kalah. terlalu sering aku kalah, dan kalah tidak pernah terasa menyenangkan. aku tahu!!
baiklah, jurnalku
lelah rupanya telah merambat ke dinding sadarku. mungkin mimpi berkenan memberkahiku dengan sesuatu indah, agar esok tiada gundah. aku lemah, jurnalku. lemah terhadap marahnya. lemah terhadap kecewanya. lemah terhadap kehilangan dirinya. aku lemah. ataukah terlalu sayang.
entahlah, jurnalku, entah