Sibak Senja


KEJUTAN !!!
September 19, 2008, 6:06 pm
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

By : Mirza Rahadian

Beberapa helai daun terlihat gugur dari pucuknya. Angin berhembus sedikit kencang di luar. Dan langit seolah bersiap mencurahkan derai hujan siang ini. Segala pemandangan itu menemaniku dari balik jendela kedai kopi ini seiring ratapan hatiku. Ya, ratapan karena sebuah kejutan.

Namanya Kinan, wanita yang telah mendampingiku hingga saat ini. Wanita yang telah kuputuskan untuk menjadi pasanganku dalam sebuah ikatan pernikahan. Dan keputusan itu pula yang mendorongku untuk meluangkan waktu dan tenaga untuk mengatur sebuah kejutan di hari ulang tahunnya. Kejutan mungil yang, aku yakin, akan memberikan sebuah perubahan besar bagi kami.

Malam itu aku akan menjemput Kinan di kantornya. Aku telah menyiapkan sebuah pesta kejutan sederhana di rumahnya dengan mengundang beberapa kerabat. Ketika kami sampai di rumahnya, semua lampu dalam keadaan mati dan saat kami berdua masuk ke dalam, aku akan mengajaknya ke halaman belakang dimana semua undangan telah menanti bersama kue ulang tahun kreasi bundanya. Setelah itu aku akan membentangkan sebuah spanduk bertuliskan “WILL U MARRY ME?” di sepanjang balkon lantai dua rumahnya beserta hamparan bunga mawar merah berbentuk hati di bawah spanduk sebagai kejutan terakhirku. Dengan bersimpuh, aku akan meminta tangannya agar bisa kusematkan cincin mungil itu. Selanjutnya aku akan berkata, “Mau kah kau menggenapkan cinta kita dan menikah denganku?” Telah terbayang wajah Kinan yang merona, diikuti sebuah anggukan. Betapa indahnya apabila kejutan itu dapat menjadi kenyataan, dan tentunya saat itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi kami.

Masih teringat berdebarnya hatiku, saat mobil kuparkir di pelataran parkir kantor Kinan. Tanganku masih gemetar memegangi kotak merah itu. Dengan gelisah, kupandangi kaca spion dalam mobil sambil memeriksa kembali penampilanku malam ini. Dengan menghela nafas panjang, aku mencoba mengusir rasa gelisah yang semakin mengganggu. Perlahan aku berjalan menuju pintu utama gedung itu seraya menyimpan kotak cincin itu ke dalam saku jaketku. Semua lancar hingga aku tiba di depan meja resepsionis. Aku menyampaikan maksud kedatanganku kepada satpam yang berjaga di meja itu dan meminta tolong untuk menghubungi Kinan di ruang kerjanya. Beberapa kali sang satpam berusaha menghubungi Kinan, tapi tidak ada jawaban. Aku berinisiatif untuk menghubungi telepon genggamnya, tapi ternyata sedang tidak aktif. Di sela kebingunganku, muncul ide untuk menghubungi Yanis, adik Kinan, yang sudah bersiap di rumahnya.

“Halo, Nis. Ini mas Dika”.

“Iya, mas? Sudah bertemu mbak Kinan?”

“Justru itu, Nis. Sepertinya mbakmu sudah tidak ada di kantor?! Bukankah malam ini dia lembur?!”

“Begitu ya mas?! Sudah coba menghubungi handphonenya? Mungkin dia ada meeting di luar kantor, mas”.

“Aku sudah coba beberapa kali menghubungi handphonenya. Apa malam ini dia pamit mau pergi ke luar?”.

“Aku kurang tahu mas. Aku coba tanya bunda, mungkin mbak Kinan sempat pamit sama bunda. Nanti aku coba hubungi mas Dika lagi”.

“Terima kasih, Nis. Aku tunggu kabarnya”

Sementara kuakhiri pembicaraan singkat itu dengan perasaan gelisah. Ke mana perginya Kinan malam itu, padahal sore harinya aku masih sempat menelponnya sekedar untuk bertukar kabar dan melepas kangen. Beberapa hari ini aku memang membatasi bertemu dengannya, agar aku leluasa mempersiapkan kejutan untuknya. Aku berdalih sedang dinas keluar kota untuk urusan kantor saat itu. Kinan mempercayai dalihku dan memang dia terdengar sedikit kecewa ketika mengetahui hal itu. Mungkin salahku, bila ternyata Kinan memiliki acara lain malam itu.

Dengan perasaan sedikit kecewa, aku beranjak meninggalkan lobby gedung itu setelah berterima kasih kepada satpam tadi. Sepertinya, kejutan kecil ini harus tertunda. Lalu saat aku tiba di tempat parkir, handphoneku tiba—tiba berbunyi. Rupanya Yanis,

“Halo, mas Dika?”

“Iya, Nis? Apa bunda tahu mbak Kinan ke mana malam ini?”

“Bunda juga gak tau, mas. Mbak Kinan tidak pamit ke orang rumah kalau malam ini dia ada janji lain.”

“Oh begitu, Nis. Ya sudah, aku menuju ke sana sekarang. Kita bicarakan lagi saat aku sudah di sana. Terima kasih, Nis.”

“Ya sudah, mas. Kami di sini juga coba hubungi mbak Kinan, mas”

Handphone kumatikan dengan kegelisahan yang semakin memuncak.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Kinan aku masih saja memutar otak, menebak ke mana perginya Kinan malam ini. Beberapa kali muncul kekhawatiran, jangan—jangan Kinan masih marah karena dalih kepergian dinasku, tapi segera kutepis kekhawatiran itu. Aku akui memang beberapa minggu ini hubungan kami mengalami sedikit masalah akibat urusan kantorku. Kinan mengaku waktuku terlalu banyak dihabiskan untuk bekerja dan waktu untuk bersamanya terasa berkurang. Beberapa kali aku coba menjelaskan kepadanya bahwa kondisi di kantorku memang sedang sibuk dan aku dipercaya untuk menangani proyek penting, yang apabila berhasil kuselesaikan dengan baik akan sangat membantu karierku di sana. Kinan sepertinya tidak mengerti, atau tidak mau mengerti, tentang keadaanku itu. Beberapa kali kami berdebat tentang hal itu. Bila memang Kinan marah, kenapa harus sekarang dia marah dan menjauh dariku seperti ini.

Akhirnya aku tiba di rumah Kinan, disambut oleh Yanis dan bundanya yang terlihat khawatir setelah sebelumnya memarkir mobilku di belakang pos hansip tak jauh dari rumah itu agar tak mencurigakan ketika Kinan pulang. Mereka mengaku bingung karena ternyata Kinan masih belum dapat dihubungi, baik lewat sambungan telepon maupun sms. Saat ini kami merasa lebih khawatir tentang keberadaan Kinan daripada pesta kejutan yang menanti di dalam. Akhirnya kami terpaksa menunggu karena sudah tidak tahu harus berbuat apalagi. Entah berapa lama kami menunggu dan beberapa tamu pun terlihat gelisah, hingga akhirnya terdengar suara mobil memasuki garasi rumah. Mbok Ijah, pembantu di rumah Kinan, segera kami utus untuk melihat keadaan sambil berpesan untuk langsung mengajak ke halaman belakang bila ternyata yang datang adalah Kinan.

Kami semua yang berada di halaman belakang mulai bersemangat, menanti. Tak lama mbok Ijah datang dengan wajah gelisah dan langsung menemui bundanya kinan, lalu membisikkan sesuatu kepada beliau. Spontan wajah wanita itu berubah, seperti terkejut mendengar kabar yang baru saja disampaikan oleh mbok Ijah. Melihat gelagat yang aneh, aku langsung mendekati bunda Kinan,

“Apa ada masalah, tante?”

Belum sempat wanita itu menjawab pertanyaanku, tiba—tiba sosok Kinan terlihat di pintu teras belakang dan undangan yang lain serempak berteriak,

“Selamat Ulang Tahuuuunn …”

Lalu semua hening.

Ternyata malam itu Kinan tidak pulang sendirian, tapi bersama Mario, mantan pacarnya. Setelah berteriak, para undangan langsung tercekat melihat Kinan yang sedang dipeluk dari belakang oleh Mario. Aku pun ikut tercengang melihat pemandangan itu. Ternyata malam itu Kinan menghabiskan malam istimewanya bersama lelaki itu. Beberapa undangan ada yang memandangku dengan gelisah seolah sambil berkata, “Ini bukan seperti yang kamu kira, Dika”. Pandangan itu tidak kuhiraukan karena otakku seperti berhenti bekerja, semuanya kosong. Seperti gerak reflex, aku beranjak mendekati Kinan yang sekarang memandangku dengan kegelisahan yang sama seperti undangan lainnya. Aku menjabat tangannya seraya mengucapkan selamat ulang tahun dengan nada datar, lalu bergegas menuju pos hansip untuk mengambil mobilku dan secepatnya meninggalkan tempat itu. Entah karena perasaan marah atau sedih, kulempar kotak cincin yang sejak tadi kugenggam ke lantai sebelum aku melewati pintu depan rumah itu. Dari belakang terdengar suara Kinan yang memanggil namaku dengan nada yang putus asa dan gelisah, tapi kuputuskan untuk terus berlalu tanpa menoleh ke belakang. Malam itu aku adalah lelaki yang kalah. Sesuatu yang masa depan ternyata dikalahkan oleh sesuatu yang masa lalu.

Setelah kejadian yang mengejutkan itu, Kinan beberapa kali mencoba menghubungiku lewat telepon, sms, bahkan beberapa kali dia datang ke kantorku. Dia terlihat berusaha keras untuk menjelaskan kejadian di malam ulang tahunnya, tapi aku merasa tak ada yang perlu dijelaskan. Yang ada dalam pikiranku adalah kenyataan bahwa Kinan lebih memilih menghabiskan waktu istimewanya bersama lelaki lain, daripada bersama aku, calon suaminya. Mungkin aku terdengar egois, tapi biarlah aku jadi egois karena akhirnya aku mengerti bahwa cinta tak selamanya indah.

Sekarang, jendela kedai kopi ini masih menyuguhkan pemandangan yang sama. Helai daun yang berguguran. Langit mendung di ambang derai hujan. Dan pantulan sosok lelaki sedang merajut serpihan hatinya yang terserak karena sebuah kejutan.