Filed under: Uncategorized
beberapa hari yang lalu saya sempet berjalan ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah sudirman. entah kenapa sejak sampai di tempat itu, saya seperti tidak bisa menahan keinginan untuk pipis, dan akhirnya saya memutuskan untuk mencari toilet terdekat untuk menuntaskan hasrat saya (jiah, udh kek lagih nahan hasrat apa ajah kau, za … jijik!!!)
sesampainya saya di toilet, ternyata cukup ramai, mungkin karena toiletnya tidak jauh dari bioskop (trus hubungannya apa, za?? .. bodoh!!). alhasil, saya harus rela menunggu sampai giliran saya tiba.
tak berapa lama saya menunggu, ada seorang bapak setengah baya yang jg masuk ke dalam toilet dan mulai menunggu dengan gelisah. saat tiba giliran saya untuk menggunakan “tempat pipis” (kau tidak tau apa namanya benda itu yah, za?! .. dasar lugu!!) bapak itu terlihat berusaha untuk menyalip saya (sepertinya si Bapak memiliki kecenderungan menjadi pembalap), tapi karena saya lebih sigap, akhirnya usahanya itu gagal. dengan kesal akhirnya dia terlihat keluar dari toilet.
selesai menuntaskan hasrat, saya langsung keluar untuk melanjutkan rencana saya. saat membuka pintu toilet, terdengar ada keributan dari arah toilet wanita yang berada di seberang toliet pria yang saya gunakan.
“Maaf, pak. di sini toilet wanita. toilet pria ada di sebelah sana”
aku mendengar petugas janitor, berusaha menjelaskan. dan ternyata orang yang memaksa untuk masuk ke toilet wanita adalah si Bapak yang tadi gagal menyalip saya. akhirnya saya berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka.
dengan agak emosi, si bapak membentak si janitor
“Iyah, saya tau ini toilet wanita, tapi sama saja kan?!”
“bukan begitu, pak. tapi memang dasarnya toilet wanita digunakan untuk wanita.”
“AAAH, banyak omong kau. Toh barang ini juga untuk wanita kan?!”
dengan agak emosi, bapak itu menunjuk tonjolan yang ada di bawah ikat pinggangnya. [dhuuuuaarr!!!!]
Filed under: Uncategorized
selamat siang, jurnalku
siang ini lapar belumlah pula berkenan menghampiri lambungku. mungkin karena sarapan yang terlambat. mungkin maag-ku kumat. mungkin atasanku mulai bersilat. mungkin, dan mungkin.
ya sudahlah, biarkan kita mulai berceloteh di siang yang mendung ini.
jurnalku,
mungkin kau sudah tahu, 2 hari lagi adalah hari kasih sayang, atau biasa mereka sebut valentine’s day. di hari yang merah jambu ini, pasangan pria-wanita, yang tua-muda, merayakan dengan penuh gegap gempita. sekotak coklat, seikat bunga dan berbaris lantunan puisi cinta, yang dicuplik dari buku Kahlil Gibran, melengkapi perayaan ini. sungguh indah. tapi ironis.
maaf, jurnalku
bukannya aku tak suka merayakannya. aku juga memiliki kasih sayang, cinta dan perasaan indah lainnya. aku juga memiliki pasangan (bagi anda yang berpikir saya GAY … THINK AGAIN!!), yang sangat aku sayangi. tapi sejak semalam, pikiran ini mulai bergulir tentang nilai kasih sayang itu sebenarnya. kenapa harus ada perayaan kasih sayang, tapi tidak untuk duka. ya, duka. buatku kasih sayang yang begitu indah akan kehilangan artinya tanpa duka.
sebelum kau mulai pusing, jurnalku, ijinkan aku menjelaskan
kasih sayang adalah perasaan yang begitu indah, bila kuibaratkan, serupa bunga mawar. tapi, bukankah indahnya bunga mawar itu terlihat lebih berkesan setelah kita melihat seonggok kotoran kuda dengan bentuk yang abstrak. kotoran kuda itu adalah duka. kasih sayang akan terasa lebih indah saat kita telah mengalami duka.
maaf, jurnalku
akhirnya lapar telah kenan singgah di lambungku yang pasrah menanti. mungkin akan kulanjutkan sore nanti. atau tidak akan kulanjutkan, dan biarkan akalmu yang mencerna penjelasan tadi. mungkin, entahlah.
Filed under: Uncategorized
selamat pagi, jurnalku
aku ingin bercerita tentang sesuatu yang lucu tadi malam. kebiasaanku untuk tidur malam membuatku sangat bersahabat dengan tabung gambar, yang biasa disebut televisi, itu. sesungguhnya persahabatan kami tidak dilandasi cinta, melainkan kebutuhan mutualistis. aku butuh televisi untuk menemani, sementara televisi butuh aku untuk tetap menunjukkan eksistensinya di dunia.
baiklah, jurnalku
sebelum aku membuatmu bosan, ada baiknya cerita ini kumulai. di salah satu stasiun televisi swasta nasional, yang mengaku selalu lebih indonesia, ditampilkan sebuah acara kuis interaktif yang menggunakan jasa layanan sms premium empat angka (semacam : KETIK REG (spasi) KUIS, KIRIM KE 6699). Pemandu acara atau host dalam acara itu adalah seorang wanita cantik dan seksi dengan suara menggoda. gaun yang dikenakan oleh wanita terlihat sangat seksi, apalagi belahan bagian dadanya sedikit lebar sehingga, maaf, sebagian payudaranya terlihat dengan jelas. yang lucu adalah si wanita terlihat risih dan berusaha untuk menutupi bagian “pribadi”nya. kartu naskah, rambut dan beberapa properti studio telah digunakan, tapi entah karena usahanya yang belum maksimal atau dia sengaja melakukannya, payudara itu beberapa kali tertangkap oleh kamera, dan mata-mata para lelaki pencumbu malam sepertiku.
jangan salah, jurnalku
realitas seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, bahkan sudah menjadi hal yang umum dan wajar terjadi. ketika tubuh wanita dieksploitasi secara vulgar demi sebuah kepentingan, yang ujung-ujungnya berbau profit alias duit. sementara para aktivis muslimah sibuk memperdebatkan masalah aurat dan kemuliaan seorang wanita, para selebritis dan public figure sibuk mengumbarnya. dilematis, dan sedikit tragis, bukan?? aahh, siapakah aku hingga berani menilai hal seperti itu.
sudahlah, jurnalku
hari ini sudah terlalu mendung. aku tak ingin membuatnya semakin sendu dengan racauan yang semakin tidak masuk akal ini. baahhh!!
Filed under: Uncategorized
maaf, jurnalku
telah lamaku sisihkan dirimu. pastilah lembaranmu mulai lelah menanti belai penaku. ya, aku tahu kau pasti kecewa, apalagi setelah tahu bahwa aku hanya sempat mengguratkan rangkaian kalimat bodoh ini ke lembar-lembarmu yang menanti kisah menakjubkan, yang terkenang sepanjang masa. untuk itu maafku tentu tak akan cukup menebus segala penantianmu itu.
jurnalku,
tahukah kau, bahwa aku hari ini sedang merasa usang. ya, usang. sama usangnya dengan kain bekas pembersih di dapur. tapi aku yakin kau sudah bosan mendengar keluhku ini. ada segudang kesah yang tak henti kumuntahkan di atas lembarmu, jurnalku. ada basahnya airmata di sana.
dan aku,
terlalu bodoh untuk mencari penyelesaian bagi semua masalahku. kubiarkan semuanya merembang di batas hatiku. mengambang serupa kabut di mendungnya fajar. merenggut sisa geliat semangatku, yang semula begitu gelora. hendak kemana hati ini kelana? padahal tanjung telah terlihat di cakrawala. kenapa harus mencari bila mutiara telah bersandar di ujung mata? dan aku hanya mampu mengumbar kata tanpa makna seperti ini. bah!!
sudahlah, jurnalku
biarkan bara cemburu merayapi lembar hingga menguap airmata itu. aku hanya tahu memuaskan egoku, dan bukan untuk mengalah. bagiku : mengalah artinya kalah. aku bosan kalah. terlalu sering aku kalah, dan kalah tidak pernah terasa menyenangkan. aku tahu!!
baiklah, jurnalku
lelah rupanya telah merambat ke dinding sadarku. mungkin mimpi berkenan memberkahiku dengan sesuatu indah, agar esok tiada gundah. aku lemah, jurnalku. lemah terhadap marahnya. lemah terhadap kecewanya. lemah terhadap kehilangan dirinya. aku lemah. ataukah terlalu sayang.
entahlah, jurnalku, entah
Filed under: Uncategorized
by : Mirza Rahadian
Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.
Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang mungkin telah digunakan oleh ratusan, atau bahkan ribuan, cerpen lainnya yang pernah dibuat. Sebuah tema yang usang, namun masih menyimpan kekuatan yang cukup menghentak. Tema tentang cinta yang mendua, sebuah Perselingkuhan, yang sudah umum terjadi pada hubungan berpasangan. Kekuatan tema ini terletak pada tingkat realitas yang cukup tinggi dan kedekatannya dengan para pembaca, karena hampir setiap pembaca pernah berinteraksi secara langsung ataupun tidak dengan perselingkuhan, baik sebagai korban, pelaku ataupun saksi. Realitas dan kedekatan tadi membuat cerita ini seolah mampu membangkitkan sebuah kenangan dalam kehidupan para pembaca, atau hanya sekedar renungan yang diselingi penghayatan. Pemilihan tema seperti ini memang sangat mudah mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, tapi bila penulis kurang waspada, tulisan seperti itu malah akan menjadi seperti sebuah catatan harian yang picis. Untungnya Ratih Kumala adalah seorang penulis yang cukup handal, sehingga tema itu dapat tergali dengan cukup baik dan ditampilkan dengan cara yang unik namun masih terasa wajar. Tidak terlihat usaha untuk membuat cerita ini menjadi sebuah prosa—liris yang mengumbar kata—kata puitis dan simbolisme yang njelimet, tapi cerita ini mampu menampilkan dramatisasi dan pembentukan konflik yang baik, dan emosi cerita ini tersalurkan dengan sangat baik kepada pembaca tanpa terlihat memaksa.
Selain tema dan pengembangan konflik yang digarap dengan baik, cerita ini juga dengan berani menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama dimunculkan adalah sudut pandang dari tokoh Istri, dan yang selanjutnya adalah sudut pandang tokoh wanita yang menjadi selingkuhan. Kedua sudut pandang ini muncul bergantian dan perpindahan sudut pandangnya terjadi dengan halus sehingga pembaca tidak kaget melihat perubahan pola tutur/gaya ujar dari kedua tokoh. Sepanjang pengalaman saya (yang terbilang tidak cukup banyak), cerita semacam ini memiliki resiko untuk membingungkan pembaca, terutama bila perpindahan sudut pandang tadi tidak diperhatikan, seperti misalnya : kedua sudut pandang menggunakan pola tutur/gaya ujar yang sama atau mirip, niscaya para pembaca akan bingung “Siapa yang sedang bertutur? Apakah tokoh A atau tokoh B?”. Selain itu, penggunaan dua sudut pandang (atau lebih) rentan membuat sang penulis kebingungan sendiri. Terutama ketika sang penulis tidak memiliki kerangka acuan yang jelas serta pola penulisan yang baik. Ratih Kumala dengan cerita ini, sekali lagi menunjukkan bahwa beliau mampu mengatasi masalah—masalah tersebut dengan sangat baik. Selain pola tutur/gaya bahasa yang khas dari masing—masing tokoh yang digunakan sudut pandangnya, penggambaran setting dan emosi dari tokoh—tokoh tersebut mampu menjelaskan kepada para pembaca (mungkin sekaligus penulis) tentang perkembangan cerita dari sebuah tokoh secara khusus tanpa sedikit pun merasa bingung.
Demikian hasil pembacaan saya terhadap cerpen Rumah Duka karya Ratih Kumala. Secara keseluruhan, cerita ini bisa menjadi referensi yang cukup baik bagi pembaca yang mencari sebuah cerita realis dengan tema sederhana namun menampilkan sebuah pengembangan konflik dan dramatisasi yang baik. Serta bagi para pembaca yang ingin mempelajari penggunaan lebih dari satu sudut pandang namun masih tetap luwes dan tidak membingungkan, dapat mempertimbangkan untuk membaca secara seksama cerpen ini.
Note : cerpen Rumah Duka juga dapat dilihat di http://www.sriti.com/story_view.php?key=2815
Jakarta, 24 September 2008